Showing posts with label Coffee. Show all posts
Showing posts with label Coffee. Show all posts

Tuesday, March 15, 2016

Resto Padang Peranakan : Cikang, The Untold Story of Padang


Cikang Restaurant, sekilas saya pernah mendengar nama itu. Nama yang terdengar etnik kalau menurut saya mah. Jadi saya menduga bahwa tempat makan ini menyajikan masakan dari daerah tertentu. Minggu, 6 Maret 2016 saya mendapat kesempatan untuk mengenal restaurant yang berlokasi di kawasan Menteng. Di dekat RB Bunda, dimana kedua orang keponakan saya dilahirkan di rumah sakit ini. 3 tahun lalu saya juga sempat mondar mandir ke unit infertilitas-nya untuk “study khusus”, yang ternyata bagian dari rumah sakit ini berada tepat diseberang Cikang Resto.

Dari luar resto tampak modern minimalis tetapi tetap ada unsur Sumatera Barat
Informasi lebih lanjut bahwa Cikang Resto merupakan tempat makan yang menyajikan masakan dari daerah Sumatera Barat, dengan istilah lebih spesifik lagi adalah masakan Padang Peranakan. Cerita dan legenda Padang Peranakan berawal sejak zaman kolonial Belanda dan kota tua China yang berada di salah 1 suburb di Padang Sumatera Barat bernama Pondok. Dimana disana terdapat banyak kedai kopi yang seringkali dikunjungi oleh orang-orang China,Arab dan India selain orang pribumi.  Menu yang tersedia di Cikang merupakan menu yang biasa disajikan di aneka kedai kopi (Kopitiam) di kawasan Pondok Sumatera Barat. Kata Cikang berasal dari salah satu pemilik kedai kopi yang ada di kawasan tersebut, Lee Chie Kwang.
Mengusung tagline “The Untold Story of Padang” owner Cikang, yakni sepasang suami istri bernama dr.Ivan Sini (Ternyata beliau dokter kandungan spesialis bayi tabung) bersama istrinya memiliki keinginan membuka cafe saat kembali ke Indonesia. Sebelumnya mereka tinggal di Australia selama 10 tahun, sehingga akhirnya mereka membuka usaha kuliner yang bukan sekedar cafe yang menyajikan kopi. Siang dipandu oleh Mas Arie Parikesit, Founder Kelana Rasa mereka bercerita tentang seluk beluk hingga Cikang Resto beroperasi. Berbagai kisah yang unik dipaparkan kepada kami, para pecinta kuliner, media, blogger,vlogger yang sangat antusias mengetahui cerita dan sejarah Cikang. Beneran deh, menurut saya pribadi tagline “Cikang : The Untold Story of Padang”-nya sangat mengena! Beruntung siang itu kami mendapatkan cerita lain tentang rumah makan Padang.

Kopi Cikang dan Snack Singkong dihidangkan sambil menanti tamu yang lainnya. Kopi Cikang biji kopinya berasal dari Solok Sumatera Barat. Rasanya gurih sedap, tidak pahit, saya hanya menambahkan 1 sachet brown sugar. Cangkir yang digunakan untuk kopi juga memiliki cerita tersendiri.
Saya peserta yang pertama kali datang. Mas Arie telah terlihat duduk di salah satu sudut space acara diselenggarakan. Ketika saya menanyakan sistem sajian makanannya, Mas Arie mengatakan bahwa menu Ala Carte  adalah sistem penyajian yang ditawarkan oleh Cikang. Saya manggut-manggut, terkibaslah bayangan pelayan rumah makan Padang yang membawakan piring-piring tersusun berisikan lauk pauk. Ketika saya masih kecil beginilah wajah rumah makan Padang hingga membuat saya terkagum-kagum melihat para pelayan itu membawa piring-piring tersusun sangat tinggi. Bisa sampai belasan piring tersusun di satu tangan mereka, laksana pemain akrobat.
Setelah pemilik Cikang Resto menceritakan latar dan sejarah seluk beluk berdirinya resto, plus cerita tentang sejarah menu yang ada – Mas Arie memanggil seorang Chef yang memang telah siap melakukan demo memasak. Menu yang dimasak siang itu adalah Mie Alang Lawe.

Mie Alang Lawe
Kami dibagikan resep masakan tersebut, siap mempraktekkannya di rumah di waktu senggang. Nambah pinter deh nih, makanya jangan Cuma pinter masak mie instan ;p Kami yang hadir di sana langsung mencicipi menu tersebut pada bowl kecil yang disajikan oleh petugas rumah makan. Penampakan Mie Alang Lawe seperti Mie Aceh, tetapi rasa berbeda kok. Bahan yang terdapat dan masih terlihat di Mie Alang Lawe adalah : Mie kuning (pastinya), Ceisin, Daun Bawang, daging has yang sudah dipotong dengan ukuran 2x1 cm serta irisan wortel kecil tipis. Sebenarnya saya lebih menyukai apabila memasaknya tanpa menggunakan bumbu penyedap (MSG) dan kaldu sapi kemasan yang juga tertulis di resep, karena saya yakin dengan hanya memberikan bumbu alami yang terdiri dari cabe giling,bawang putih dan bawang merah,garam,merica,gula,minyak goreng dan telur makanan ini sudah kuat rasa gurihnya. Tapi ini masalah selera ya, jika kalian suka dengan rasa umami diantara kelezatan makanan maka silakan tambahkan bumbu penguat rasa tersebut. 

Gulai Paku/Pakis
Menu berikutnya yang dihidangkan kepada kami adalah : Gulai Paku. Iya, daun paku atau daun pakis yang dulu dipelihara Ibu saya di beberapa pot ketika saya masih SD. Ketika itu Ibu pernah mengatakan bahwa daun pakis oleh beberapa masyarakat enak untuk di masak menjadi lauk sayur. Ternyata baru 20 tahunan kemudian saya membuktikan dan makan langsung daun pakis ini, dan saya doyan tuh daun pakis yang di Cikang dimasak dengan menggunakan kuah kari. Macam makan lontong sayur dengan sayuran dari daun pakis.
Lamang Tapai
Sebagai makanan penutup (dessert) kami dihidangkan Lamang Tapai yang merupakan kegemaran saya sejak dulu. Sekarang jarang,atau bahkan sudah tidak ada rumah makan yang menyediakan makanan penutup ini. Paling-paling biasanya di tempat lain tape ketan dijadikan minuman “Es Tape”.
Walaupun bukan berasal dari Sumatera Barat, namun almarhum Ayah saya menggemari masakan Padang. Jenis masakan Padang memang sangat beragam, lihat saja rumah makan Padang sejak dulu, tetapi ternyata keberagaman jenis masakan Padang lebih banyak lagi. Ternyata-nya lagi saya belum mengenal cerita atau sejarah dari masing-masing masakan/makanan tersebut. Misalkan Rendang yang umumnya masyarakat awam hanya mengenal Rendang Daging Sapi , padahal berbagai jenis rendang terdapat di bumi Minang – bahkan mencapai 30 jenis rendang, ada rendang ayam/telor,dll. Iya tuh, Rendang Telor pernah hitz 2 tahun lalu di online shop,tapi kenapa sekarang jarang kelihatan lagi ya?
Nah di Cikang kita bisa menemukan cerita lain tentang kuliner Padang :)
Yang parah sih tentang pengetahuan saya terhadap Sate Padang. Maklum, selama ini saya kalau membeli sate tersebut hanya menyebutkan sate Padang tanpa spesifik menyebutkan asal daerah dan ciri khas bumbu lainnya. Siang itu akhirnya saya mendapat wawasan baru tentang Sate Padang, njawab pertanyaan Mas Arie yang jawabannya dapat bocoran dari Mbak Ika...hehehe....*Thanks,Mbak atas bantuannya. Thanks,Mas Arie untuk voucher Rp 200.000 makan lagi di Cikang Resto. Semoga minggu depan bersama teman bisa datang dan menikmati Sate Padang ala Cikang yang ada cakwe-nya. Selain itu saya juga akan melahap Soto Padang Simpang Kinol. Jadi penasaran, jangan-jangan Soto Padang juga berbeda-beda setiap daerah di Sumatera Barat. Kalau mau makan mixed rice alias nasi dengan lauk pauk bisa memesan : Nasi Uci (Ayam Bakar) dan Nasi Angku (Rendang Beef)

Yaa,pastinya saya akan kembali ke Cikang Resto untuk menikmati sekaligus menambah cerita tentang sejarah makanan Padang yang ada di sana. Ternyata sangat seru menambah wawasan dan pengetahuan tentang kuliner – nggak sekedar memanjakan lidah dan mengenyangkan perut loh!
Harga Makanan per-6 Maret 2016 : 
(Maaf, saya tidak mengecheck soal tax. Jadi ini harga di daftar menu ya :D)
Mie Alang Lawe  -  55K
Gulai Paku  - 30K
Soto Padang Simpang Kinol -  45K
Lamang Tapai  - 25K
Nasi Uci dan Nasi Angku  – 90K

Alamat Cikang Coffee & Resto
Graha Anam, Ground Floore
Jln.Teuku Cik Ditiro 11
Menteng - Jakarta Pusat
Telp. 021-3906110

Sunday, December 27, 2015

One Fine Day With Bengawan Solo Coffee

Sabtu, 28 November 2015 saya mendapatkan undangan dari Openrice untuk hadir dalam acara “ONE FINE DAY With Bengawan Solo Coffee" di unitnya yang berada di Kota Kasablanka. Hal yang sangat familiar bagi saya karena hampir setiap hari melewati dan mampir di Kota Kasablanka. Head Office perusahaan saya beraktifitas berada di area ini. Serta operasional office tempat saya beraktifitas hanya beberapa meter dari ITC Kuningan, dimana terletak retail pertama dari Bengawan Solo yang beroperasi sejak Mei 2003. Seringkali saya mampir membeli minuman di outlet ini, bahkan saya pernah menceritakan di SINI.
Awal dibukanya Bengawan Solo Coffee memiliki konsep ‘take away concept’ dengan model push cart yang kemudian berkembang menjadi in line store dan island store. Line Store dan Island Store memungkinkan pelayanan yang lebih maksimal karena konsumen dapat duduk santai, membicarakan bisnis/pekerjaan atau kegiatan lainnya. Contohnya seperti yang saya lakukan ketika mewawancarai seorang Coffee Conoisseur di Bengawan Solo Coffee ITC Kuningan. Ditambah dengan fasilitas free WiFi tentunya sangat membantu konsumen dalam browsing atau berkomunikasi melalui jaringan internet. Konsep ini terus berkembang dalam proses mencapai tujuan menjadi nomor satu. Bengawan Solo Coffee ingin menjadi Kedai Kopi yang diingat karena konsumennya yang selalu rindu dengan suasana dan rasa dari racikan kedai kopi asli Indonesia. Banyaknya pesaing menjadi Bengawan Solo Coffee harus cermat dalam menjalankan bisnis kopi dengan strategi pemasaran.
Pada hari event diselenggarakannya Openrice Gathering ‘One Fine Day with Bengawan Solo Coffee’ saya tiba 1 jam lebih cepat dari jadwal acara karena saya baru selesai Yoga di salah satu gym yang tidak jauh dari Kokas. Panitia dari Bengawan Solo Coffee sedang mempersiapkan tempat acara. Saya memanfaatkan free wifi yang tersedia disana. Begitu meja registrasi dibuka, saya langsung mendaftar ulang dan mendapatkan goodiebag beserta kartu menu. Saya memesan dalam jajaran Ice-Blended Java Avocado (Traditional and Flavorfull), kemudian duduk di area lokasi acara. 

Minuman dan cemilan saya saat One Fine Day BengSol & Openricer
Tak lama kemudian hadir undangan yang diantaranya influencer media sosial dan para lifestyle dan food blogger yang sudah saya kenal di berbagai event. Acara ONE FINE DAY diadakan oleh BSC bermitra dengan Bank Danamon, Openrice, Dilmah, Ruby Coffee Machine, Greemfield, Fairy & Square, Diamond dan Mal Kota Kasablanka.

Persiapan 3D Latte Art
Berbagai acara dipersembahkan oleh Bengawan Solo Coffee, diantaranya kompetisi nge-tweet tercepat, Instagram Photo dan mini tutorial 3D latte art serta kompetisi latte art logo BSC secara berkelompok. Cihuynya nih, saya memenangkan “Instagram Photo Competition”...yeaay, dapet deh voucher ngombe kopi senilai Rp 100.000 dan sebuah mug. Voucher-nya bermanfaat sekali loh, karena saya termasuk “Hard Coffee Drinker”! Dalam 1 minggu saya bisa berkunjung ke kedai kopi 2-3 kali, dan Bengawan Solo Coffee memang termasuk yang jadi favorit saya dalam ngombe kopi. 

Ini foto saya yang menang Instagram Photo Competition "One Fine Day"
Sejak dahulu saya memang penggemar kopi, ketika belajar di Belanda dan Selandia Baru saya seringkali menikmati kopi di berbagai kedai kopi yang ada di hampir setiap sudut public area disana. Keharuman kopi laksana aromatherapi bagi saya selama belajar. Yup, seringkali di sudut toko buku terdapat kedai kopi yang aroma-nya menyerbak ke penjuru toko. Kini lifestyle itu telah berkembang di Indonesia, tentunya sebagai gerai kopi asli Indonesia BSC harus terus melakukan ekspansi agar kopi dan kedai kopi-nya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahkan menjajah produksinya ke luar negeri. Pasti bisa dong dengan dukungan penggemar kopi di tanah air, Indonesia merupakan penghasil kopi terbesar ke-empat di dunia loh!

Bengawan Solo Coffee Kota Kasablanka : Terletak di Food Society. Selain di dalam store-nya, kita juga dapat ngombe kopi dan menikmati kudapan di ruang luar depan store. Di sini-lah yang dijadikan lokasi penyelenggaraan acara "One Fine Day with Bengawan Solo Coffee" 

Sebagian hampers for BengSol "One Fine Day"

Setelah acara "One Fine Day with Bengawan Solo Coffee" usai, inilah beberapa kunjungan saya ke BSC lainnya. Sebagian dari 50 cabang BSC yang tersebar di Indonesia. Yuuk ah, mari majukan usaha lokal...mari dukung kopi Indonesia untuk go international. Setidaknya mari kita jadikan kopi Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri!

Bengawan Solo Coffee Pacific Place : Usai menghadiri MarkPlus Conference di Ritz Carlton Hotel tanggal 10 December 2015 saya menyempatkan diri turun ke lantai bawah untuk minum kopi di BSC Pacific Place. Outlet ini tidak besar, tetapi mudah di temukan karena dekat dengan eskalator dan traffic pengunjung Pacific Place yang masuk melalui jalur pejalan kaki. Saya bermaksud ngopi-ngopi sambil mengedit beberapa foto dan tulisan secara online. Sayangnya saat itu BSC PP wifi-nya tidak lancar. Saya melihat sekeliling meja dan kursi yang ada di BSC tampak penuh...hahaha, saya tahu diri-lah nggak berlama-lama nongkrong...hihihi, curiga kalau modem wifi-nya dimatikan deh supaya saya beranjak pergi.... 

Meja mungil di BSC Pasific Place. Unik dengan bertabur biji-bijian kopi dilapisi kaca


Crispy Brownies di BSC Pacific Place
Bengawan Solo Coffee Kelapa Gading Mall : Lokasinya di lantai 3 antara Food Temptation dan Gading XXI. Sederetan dengan beberapa F & B stores lainnya. Ada ruangan yang dibatasi kaca dengan ruang lainnya. Oke banget kalau kita mau ngombe kopi dengan ketenangan khusus sambil ber-wifi ria atau jika bermaksud meeting dengan suasana lebih privacy. Ketika saya kesana bersama kakak (Saya memesan Hazelnut Latte) wifi-nya lancar dan petugas-nya ramah.

Ruang dalam BSC Mall Kelapa Gading
Bengawan Solo Coffee La Piazza Kelapa Gading : Lokasinya di pintu masuk depan Taman Jogging, non-AC karena di ruangan terbuka. Anginnya lumayan kencang waktu saya ke sana sehingga tissue beterbangan dari meja saya...hehehe...tapi asyik-lah, serasa ngopi di pantai. Apalagi ada free wifi. Penasaran dengan “Java Ramen” akhirnya saya memesan makanan yang identik dengan masakan Jepang ini di BSC La Piazza Kelapa Gading. Ternyata ini adalah mie instan yang diberi ekstra bumbu serta di tambahi telor asin. Terpuaskanlah rasa keingin tahuan saya terhadap “Java Ramen” versi Bengawan Solo Coffee.

Java Ramen dan Original Poppucino pengisi sore...
Bengawan Solo Coffee Mall of Indonesia (MOI) : Minggu, 27 Desember 2015 tiba-tiba saya ingin ngombe kopi . 4 hari berturut-turut libur dan 3 hari sudah beraktifitas liburan bersama kerabat dan teman, maka sekarang saya ingin menikmati ‘me time’. Langsung saya menuju MOI di kawasan Kelapa Gading. BSC MOI berada di salah satu sudut di wahana bermain anak-anak. Siang menjelang sore saya kesana suasana sangat ramai di sekitar BSC, maklumlah liburan, namun saya bisa dengan asyik menikmati Hazelnut Latte sambil mengirim berbagai pesan dan foto melalui aplikasi chatting dan email ke My Lovely di luar negeri. Di BSC MOI wifi-nya luaaannncaaarr....
BSC Mall Of Indonesia (MOI) Kelapa Gading

WIFI dan Media Social
Dari tadi saya begitu perhatian dengan wifi masing-masing BSC yach? Hehehe, beginilah orang yang menjalankan LDR. Jadi merupakan hal penting jika memilih suatu tempat tongkrongan yang wifi-nya lancar. Kelihatannya mojok dan ngombe kopi sendirian, padahal sebenarnya lagi “pacaran” dengan pasangan yang berada ribuan kilometer. Dengan adanya wifi di sebuah tempat tongkrongan – menurut saya hal tersebut juga merupakan strategi marketing bagi industri hospitality. Yaa, asal konsumennya sadar diri deh, jangan hanya pesan 1 minuman tetapi nongkrong dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam. Sesuai dengan perkembangan jaman pula maka BSC mulai merambah media sosial. Dalam media sosial BSC mem-branding dengan istilah Bengsol. Bengsol memiliki beberapa account di dunia media sosial, yakni di : Facebook (Bengawan Solo Coffee Indonesia) yang memiliki follower hampir 5000 orang, Twitter (@bengsol_id) dengan follower yang juga lebih dari 5000 dan Instagram (@bengawansolocoffeeindonesia) yang baru dikembangkan di bulan September 2015 memiliki follower 200-an orang.

PROGRAM PROMO Bengawan Solo Coffee
Untuk berkembangnya ke arah lebih baik, Bengawan Solo Coffee mengajak berbagai mitra untuk melebarkan jaringan dan merambah media sosial. Di dunia perbankan BSC bekerjasama dengan Bank DANAMON sejak 2012. Program unggulan bersama yang ditunggu adalah program COFFEE FOR FREE, yakni BSC dan Danamon memberikan kesempatan kepada pemilik kartu kredit dan debit Danamon untuk mengambil lucky card yang dapat memberikan diskon sampai 100% !!! Woooww...! Tahun 2015 program ini berlaku pada bulan Desember 2015.
Lantas masih ada promosi lainkan yang akan berlangsung??? Yes, mengingat program kerjasama dengan Danamon berkelanjutan sejak 2012 maka harapan kita sebagai “tukang ngombe kopi” tentunya berharap tahun 2016 program promo ini terus berlangsung. Selain itu program promo lainnya adalah bagi pemilik Bengawan Solo Coffee Card (Disingkat : BSCC) yang telah memiliki anggota lebih dari 1,500. BSCC holder (seperti saya) akan mendapatkan promo diskon sepanjang tahun sebesar 10% untuk reguler minuman, Buy 1 Get 1 setiap tanggal 18 (Merupakan tanggal lahir BSC) dan di tahun 2016 (Sampai April 2016) akan berlangsung promo : Ngombe Bareng (1-31 January 2016 mendapat diskon minuman 30% jika member membawa teman untuk kongkow setiap hari Senin-Selasa dengan minimal transaksi Rp 150,000) . Free Upsize (1-29 February 2016 yang berlaku hari Senen untuk beberapa minuman). Early Bird Tuesday (7 – 31 Maret 2016 , jadilah 10 konsumen tercepat di hari Selasa, maka setiap pembelian di BSC akan mendapatkan crispy brownies dengan gratis). Ladies Month (1 – 31 April 2016, dari namanya sudah dapat di terka bahwa promo ini diperuntukkan bagi wanita. Yes, konsumen wanita akan mendapatkan diskon 20% minuman setiap hari Rabu).

Menu Yang Tersedia di Bengawan Solo Coffee
Premium Coffee : Americano, Black Coffee, Coffee Tareek, Cappucino, Caffee Latte, Vanilla Latte, Hazelnut Latte, Caramel Macchiato, Caffe Mocha.
Non Coffee : Milk, Assorted Tea Line, Tea Tareek, Deluxe Chocolate, Blossom Tea.
Ice Blended : Original Poppucino, Cookies ‘n Cream, Java Avocado, The Ultimate, Brande Cookies, Kyoto Green Tea.
Camilan Ndoro : Pisang Goreng, Sate Pisang, Singkong Goreng, Risol, Pastel.
*** Minuman memiliki 3 Size, yakni : Alit, Sedeng, Ageng.

Berbagai ukuran minuman yang tersedia di BSC


Salam Ngombe Kopi,

Anna R Nawaning S - Openrice/Opensnap : balqis57 - Instagram/Twitter : @balqis57 - Email : balqis57@yahoo.co.nz


Saturday, April 10, 2010

Kupi...Koffie...Coffee...Kopi....

Kupi...kupi...”An,bikin kupi ya,An?! Bikin kupi?” itu pertanyaan Aril, keponakan saya setiap pagi (11 tahun yang lalu) ketika melihat saya menyeduh secangkir coffee mix di meja makan. Saya dan beberapa anggota keluarga memang pecinta kopi, walau kami hanya peminum coffee mix atau instant coffee. Secangkir kopi pula yang dijadikan alat-nya Abeth untuk membangunkan saya di daerah St John Auckland.

Akhir Maret 2010 sampai pertengahan April 2010 saya mendapat tugas untuk menangani team lapangan project Raflesia – InDept Interview mengenai kopi. Team kami mewawancarai 15 peminum kopi yang terbagi 3 segments,yakni : Coffee Conoisseur, Heavy Coffee Drinkers and Social Coffee Drinkers. Harus dari SES A+ (Kendaraan minimal keluaran 2005, idealnya memiliki penggiling kopi sendiri dan memiliki kebiasaan ngopi di aneka coffee shop setidaknya min. 2- 3 x perminggunya)
Project ini sangat mendongkrak wawasan saya di dunia perkopian. Berkomunikasi dengan pecinta kopi secara langsung di lapangan. Hari Kamis (8 April 2010) saya sempat menemani Interviewer wawancara di Bengawan Solo Coffee ITC Kuningan - ini outlet pertama Bengawan Solo pertama di Indonesia loh - dengan salah satu responden segmen pertama. Seorang cowok eksekutif muda berusia 26 tahun - yang pernah berminat menjadi barista. Begitu duduk dia langsung merekomendasikan Ice Caramel Machiatto seharga Rp 24.000,-/cup ke kami. Saya-pun memesan kopi yang sama dengannya,sedangkan Mas Rudi memesan Vanilla Coffee. Ketika saya meminum kopi yang saya pesan..yup,Caramel-nya terasa nggak over, serbuk kopi (?) berada di setelah cream yang ditaburi caramel. Hhmmm,, ini  yang merupakan unggulannya kali yak??? Hanya sejenak saya nimbrung dengan mereka, karena Dini salah satu Interviewer telah mengabari bahwa telah berada di kantor Markplus Insight untuk mengambil perlengkapan (Guideline, MP3 dan gift) untuk mewawancara seorang cewek berusia 35 tahun kategori Social Coffee Drinkers yang akan diwawancara jam 15 di Apartemen Butik lantai 30 Kemayoran.
Pada project ini saya jadi teringat 'Kafe Kalosi', "tongkrongan" saya setiap pagi di Makassar. Baru 'ngeh' kalau Kalosi adalah nama salah satu jenis kopi Toraja. Halah, kenapa saya nggak mencoba menanyakan kopi Toraja yang terkenal itu saat saya di Makassar?!
Tanggal 9-nya saya sempat “gedebukan” karena harus mengatur jadwal IDI yang 12 responden kategori bisnis (tanggal 11 harus konfirmasi dengan salah satu manager cafe hotel berbintang).Untungnya yang kategori ini bukan Field Department yang mengerjakan. Tapi justru harus benar-benar konfirmasi! Di hari yang sama seorang responden kategori Social Coffee Drinkers ada yang akan diwawancara di lantai 5 kantor. Kali ini saya memberi tugas ke Nardi untuk mewawancara. Hhmmm...besok (11 April 2010) ada responden yang mau datang ke rumah saya untuk saya wawancara. Terpaksa saya sebagai Team Leader mewawancara, karena besok ada 4 responden! Phuuff...weekend-ku kali ini harus kerja,Bo’! Puuiifff, nikmatin aja dah, laksana daku menikmati secangkir coffee di bookshop diantara buku-buku yang berderet di bookshop. Ini salah satu kebiasaan saya di toko buku di Queen Street Auckland....”One cup of Latte, please...”.


Artikel lanjutan :
http://57odysseygemini.blogspot.com/2010/05/kopi-satu-kekayaan-negeri.html

Tuesday, October 14, 2008

Eva Coffee House - Jawa Tengah


Ini loh tempat tongkrongan para leluhurku! Yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu kami selalu mampir ke Eva Coffe House yang terletak diantara Magelang – Semarang, tepatnya di Ambarawa, dekat rumah Om-nya Papie-ku (ribet gak tuh silsilahnya? ;-p)
Tanggal 4 October lalu dalam perjalanan Jogjakarta ke Semarang, kami mampir di tempat transit full kenangan dengan almarhum Papie dan Pak De. Yup, saat Papie masih ada kami memang selalu mampir ke Eva Coffee House ini. Kalau nggak salah aku tuh dulu selalu memesan Juice Alpukat deh, tetapi kok sekarang nggak tersedia ya? Apa aku memesan Juice Alpukat-nya di tempat lain? hihihi...lupa bo’, karena terlalu banyaknya tempat makan yang kami jelajahi di Pulau Jawa ini.
Malam itu aku pesan ‘Es Coklat’ yang dibuat dari coklat bubuk, bukan coklat susu kental. Kemudian menghabiskan Soup Asparagus pesanan nyokap. Asyyyiiiikkk....nyokap nggak habis karena kebanyakan merica-nya, jadi kata nyokap tenggorokan jadi nggak enak. Kalau daku mah hajar habis aja...mau kebanyakan merica or kebanyakan porsi sih nggak masalah bagiku ;-D
Makanan khas-nya bisa dilihat di menu tuh : Gudeg Manggar yang terbuat dari Bunga Kelapa en Sop Buntut-nya.