Showing posts with label tempat makan. Show all posts
Showing posts with label tempat makan. Show all posts

Saturday, December 5, 2009

Dapur Sunda MOI Kelapa Gading


Hari tiba arisan dollar tanggal 22 Okt. 09. Kali ini di Mall Of Indonesia Kelapa Gading, tepatnya Dapur Sunda. Hhhmmmm,padahal baru beberapa hari sebelumnya saya bilang ke Dian bahwa saya merindukan gurame-nya Dapur Sunda. Sudah lama saya tidak mengunjungi Dapur Sunda, dahulu saat masih kuliah kami sering makan di Dapur Sunda Jln Cipete, awal berdirinya Dapur Sunda – dari masih secuprit sampai sekarang yang sudah diperluas. Pernah sekali ke Dapur Sunda di Pancoran serta ke Dapur Sunda yang di dekat La Piazza Kelapa Gading – sepertinya terakhir kali saat rapat bersama Wawan dan Ratno, seksi Danus-nya FLP.
Bingung juga nemuin letak Dapur Sunda di MOI, lantaran MOI yang luasnya membingungkan. Kami masuk dari Lobby 3, dan janjian untuk dijemput juga di Pintu Lobby 3, tetapi ternyata Dapur Sunda terletak di lantai 1 tepat diatas Lobby 1.
Kali ini saya mau minuman sesuatu yang lain, walau di akhir makan saya tetap memesan es teh tawar, kali ini minuman yang saya pesan adalah Es Kopi Si Iteung alias Iced Coffee Ice with Cocoa. Terdengar di telinga saya para ibu banyak memesan es bandrek dan bajigur...termasuk ibu saya yang memesan bajigur bertabur kelapa muda. Jadi inget di Bandung bulan lalu....
Tak lama pesanan mulai berdatangan ke meja kami. Pas di depan saya Gurame Goreng bertabur Kecap dan bumbu-bumbuan. Sedaaaappp.....Dapur Sunda memang unggul dalam Gurame-nya, karena memang dikembang biakkan secara normal alami, tanpa makanan dengan zat khusus yang dapat membuat para Gurame tersebut besar karena “dipaksakan”. Karena diberi makanan dan dibesarkan secara alami bertahun-tahun inilah yang membuat daging ikan gurame di Dapur Sunda terasa padat dan mantap. Untuk Gurame Goreng/Bakar harganya Rp 55.000 ++/porsi sedangkan Gurame Garang Asam dan Acar Goreng Gurame seharga Rp 65.000 ,-/porsi. Weelleeehhh,padahal dahulu saat saya sering makan di Dapur Sunda harga Gurame-nya masih berkisar Rp 20 ribuan loh....
Ibu Ida (Mertua dari salah satu Direktur Finance salah satu BUMN yang “teman” saya di komunitas penerbangan) dan Ibu Sujud (Yang ini mertua dari menteri dan ketua MPR zaman Presiden Soeharto dahulu) tiba – tiba menginginkan Soup Buntut. Saya ikutan aja mencicipi kuah Soup Buntut tersebut. Segaaarr......
DI Dapur Sunda MOI ini saya baru melihat waiter dan waitress-nya mengenakan sepatu roda untuk mengantarkan pesanan ke tiap meja, bahkan saya lihat salah satu waitress yang main sepatu roda-nya jago banget, meliuk – liuk sambil mendorong troli penuh makanan!!! Waaah...waaahhh...bekas atlet sepatu roda kali ya tuh si Mbak?! Apa untuk menjadi waiter dan waitress disini salah satu syaratnya harus mahir bersepatu roda? Dahulu sih salah satu kerabat ada yang mau melamar jadi waitress di Dapur Sunda Pancoran tetapi gak memenuhi syarat karena tidak diperkenankan memiliki mata minus. Soal sepatu roda sih sepertinya gak ada tuh...hehehe...Btw ibu saya sampai norak gituh ngelihatnya, beliau baru melihat waitress bersepatu roda jago di Bangkok Thailand, jadi langsung norak mau cerita ke kakak saya yang sudah sering keluar masuk restoran di berbagai penjuru dunia. Padahal seh setahu saya kakak saya itu pernah beberapa kali makan di Dapur Sunda MOI.
Yang saya belum lihat di Dapur Sunda MOI ini adalah makan gaya lesehan khas Sunda. Barangkali ada, tetapi saya tidak melihatnya di MOI karena ada beberapa bagian area restoran. Kalau di Cipete, Pancoran dan Kelapa Gading dekat La Piazza khan selalu ditanyakan,”Meja atau lesehan?” jika kita baru datang dan mencari tempat untuk makan....

Wednesday, November 11, 2009

KosiCozy Karebosi Food Station , Makassar


Sejak hari Sabtu saya sudah melihat billboard KosiCozy Food Station di Jalan A.Yani Makassar. Jika kita melintas di jalan depannya tak tampak bangunan pertokoan/mall. Hanya tampak lapangan Karebosi yang dikelilingi oleh seng pembatas jalan – tanda masih ada pembangunan pada bangunan tersebut. Mr Ardian Yunianto bilang menurut informasi dibawah lapangan tersebut ada mall-nya.Btw disekitar sini Mbak Rita dilahirkan,kata Mbak Rita,beliau lahir disekitar Karebosi ;-D
Penasaran juga nih, mumpung berada di Makassar dan sekalian ke Lion Air Office (untuk mengurus tiket ke Jakarta) yang terletak diseberangnya saya langsung meluncur ke mall bawah tanah – sambil menanti listrik Lion Air Office menyala. Masuk-lah saya dari salah satu pintu Karabosi Link, The Business Hub of Makassar. Langsung menuju KosiCozy Food Station. Begitu masuk disisi kiri tampak beberapa banner dan meja kasir ala resepsionist. Ternyata system yang digunakan oleh KosiCozy Food Station adalah beli makanan di setiap counter dengan menggunakan kartu isi ulang. KCFC merupakan tempat makan (jenis food court) perrtama di Makassar yang pembayarannya menggunakan prepaid card. Konsep seperti ini sudah kerap kali ada di Jakarta, seperti di Senayan City atau di beberapa mall di Kelapa Gading. Bedanya di KCFC konsumen wajib memberikan jaminan uang kartu ke kasir sebesar @ Rp 15.000 ,-. Buat saya sih agak memberatkan karena saya nggak berdomisili di Makassar dan koleksi pernak-pernik dari tempat yang pernah saya kunjungi. Pernak-perniknya termasuk kartu tersebut. Kenapa nggak dibuat persyaratan bebas uang kartu untuk pembelian minimal Rp 50.000,-??? Dan dana yang tersimpan di kartu berlaku selama 3 bulan, berarti sebelum Februari 2010 saya harus balik ke Makassar….hehehe…untuk ngabisin dana pada kartu.
Ketika saya kesana waktu menunjukkan pukul 2 siang. Tidak terlalu ramai. Counter yang terdapat di KCFC antara lain : Singapore Taste, Indonesia & Seafood, Chinese food, makanan Peranakan, Malaysia & Thai Food, Juice & Drink, serta diantara itu semua terdapat TEXAS Fried Chicken yang sepertinya merupakan satu-satunya stand yang dapat menggunakan uang cash. Saya-pun membeli Ice Lemon Tea dengan Rp 7000 ,- pakai kartu bayar dan Rp 1500,- cash. Dicampur sambil menghabiskan dana di kartu yang sudah terbeli.
Counter makanan tersebut tidak menjual minuman, selain Texas. Counter ‘Juice & Drink’ menyediakan khusus beverage, serta ada pula counter dessert di pojokan. Untuk makanan kali ini saya mencoba dari counter Singapore, Prawn Noodle (tanpa Kang Kung). Sayang banget, counter ini tidak menyediakan Laksa Prawn Singapore. Terus terang, mereka mengolah masakannya “kurang berani” terhadap bumbu, padahal aneka bumbu telah mereka ‘cemplungkan’ ke dalam masakan.

Begitu makanan habis, saya melenggang ke Texas dan membeli Ice Lemon Tea yang saya katakan sebelumnya. Tak lama karena saya harus mengecek kantor Lion Air yang tadi mati listriknya….
*Foto koleksi Anna R.Nawaning S

Wednesday, September 30, 2009

Dinner @ SANDS : Ini Jakarta or HK sih?? ;-D


Menjadi salah satu pemenang Santap Lezat Detikfood ke-25 saya mendapatkan voucher @ Rp 200.000 ,- di Sands Dining Theater yang berdasarkan beritanya sebagai The Biggest One Stop Entertainment in Asia with A True World Class Entertainment Experience.
Sehari kepulangan dari Bandung, saya dan Rahyudhy menggunakan voucher tersebut. Dinner tertanggal 28 September 2009...huks bertepatan dengan ulang tahunnya seseorang yang pernah sangat dekat dengan saya!
Ba’da Maghrib sampailah kami di Mangga Dua Square. Kami berdua telah memiliki bayangan lokasi Sands Dining Theater sebelumnya karena kami pernah berada di lokasi ini saat mengikuti seminar Financial Revolution-nya Tung Desem Waringin. Bahkan menurut Rahyudhy para peserta seminar yang mengambil paket makan bersama TDW makan-nya di salah satu bagian dari SANDS. Kami berdua masuk melalui lift yang menuju ke area seminar, jadi petugas security mempersilakan kami masuk melalui ruangan gelap yang biasa digunakkan untuk di-booking resepsi pernikahan. Gelap, tetapi telah tersusun pelaminan dan roundtable para tamu pernikahan international. Setelah melewati ruangan tersebut barulah kami mendapatkan area Sands Dining Theater yang terang benderang. Lagi – lagi harus melewati security lengkap dengan alat detektor plus pintu keamanan ala bandara. Untungnya sih pandangan petugasnya sekedar curiga bahwa kami gak mampu bayar makan disini, bukan pandangan kecurigaan bahwa kami membawa bom...hehehe...secara gituh cowok yang kali ini jalan sama saya cuma mengenakan kaos oblong putih dan celana jeans.And jilbab yang saya pakai saat itu juga jilbab murahan. Gimana yeee, soalnya Louis Vuitton, Hermes, Manolo Blahnik or Giorgio Armani belum pada mengeluarkan rancangan jilbab seharga mobil Xenia or AtoZ baru seh. Heraaan, barang yang diinjak-injak or dibanting-banting di bagasi ajah bisa seharga itu, gimana harga barang yang anggun meliliti kepala kita ya?!
Waitress berpakaian rapih dengan keramahan khas industri hospitality menyambut kami begitu kami masuk ke lobby yang seluruhnya berkarpet persia megah. Disisi kanan terdapat ruang tunggu standard hotel berbintang dan terpampang aneka artis yang sepertinya pernah show disini, diantaranya Delon, AB3, Duo Maia, Idol Divo – bahkan beberapa artis dari negeri Asia lainnya. Sedangkan kami diantar menuju meja restaurant diseberang ruang tunggu. Di lokasi tersebut ada juga karaoke, spa dan beberapa tempat hiburan.
Kami dipersilakan duduk di kursi yang mejanya segede gambreng....too big untuk kita yang datang hanya berdua. Berhadapan dengan stage yang juga besar. Bertepatan kami datang, live musik mulai dimainkan seakan menyambut kami berdua...hehehe. Lagu berbahasa Mandarin berkumandang dinyanyikan oleh penyanyi berwajah Asia Timur lengkap dengan dancer berbusana seperti yang kita saksikan di film-film silat China. Ini memang restaurant theater Oriental Klasik terbesar di Indonesia.
Berdasarkan informasi restaurant ini menyajikan ratusan aneka masakan, tetapi begitu melihat menu-nya saya berpendapat menu yang dihidangkan tidak sebanyak menu di restaurant yang pernah saya singgahi sebelumnya. Saya yang membayangkan harga makanan di SANDS yang tinggi ternyata menarik nafas lega begitu melihat daftar harga-nya, masih lebih tinggi restaurant yang menjadi langganan keluarga saya ketika ayah saya masih ada.
Tetapi hal tersebut nggak membuat kami berdua dapat cepat memesan makanan. Perdebatan antara saya dan Rahyudhy memilih menu makanan cukup alot...apalagi Rahyudhy pantang makanan pedas, sementara saya sangat menyukai bumbu Thai yang mayoritas pedas. Waiter yang mengambil order kami dengan sabar menjelaskan dan dengan fleksibel membantu kami yang kerepotan memilih menu. Karena melihat jilbab yang saya kenakan waiter tersebut juga mengingatkan ‘special request’ bagi saya, karena restaurant ini menyediakan aneka menu dari Babi!!! Huaaa....untunglah saya mengenakan jilbab, sehingga waiter dan petugas dapur dapat mengatur olahan makanan yang akan saya makan.
Mie Hongkong Tumis Kering Seafood, Nasi Goreng dengan Ayam dan Ikan, Ayam Goreng Cabe Kering Pedas telah membuat kami merasa lebih dari cukup, sehingga awalnya kami yang ingin order desert tidak jadi memesan desert. Minumnya kami hanya Es Teh Tawar seharga @ Rp 8,000 ++. Sebenarnya harga juice tidak terlalu mahal, hanya @ Rp 20.000 ,- ++ namun saya bukan orang yang senang menikmati makanan sekaligus minuman secara bersamaan. Pesanan kami semua harus dibayar Rp 205.600 ,-. Jadi saya hanya mengeluarkan uang Rp 6,000 ,-, Rp 200,000 ,- -nya khan pakai voucher.
Kesan makan di SANDS laksana tidak berada di Indonesia, kecuali melihat waiter dan waitress-nya yang berwajah Indonesia asli dengan ramah membantu kami – sedangkan pengunjung lain berwajah Asia Timur, live hiburan yang disajikannya juga berbahasa Mandarin, harga makanan tidak terlampau mahal untuk ukuran penikmat kuliner kelas restaurant (Asal jangan ngebandingin dengan warteg!), bandingkan saja dengan restaurant dengan desain interior dan pelayanan yang selevel dengan SANDS. Rasa nasi goreng-nya mirip nasi goreng yang biasanya saya pesan di kedai makan China jika saya di NZ – barangkali khas canton dan szechuan Sayangnya restaurant ini menyediakan aneka menu babi sehingga menghambat muslim dan muslimah Sastra China atau pelajar Mandarin yang ingin menikmati hiburan lagu-lagu berbahasa Mandarin.
Info tidak penting lainnya, waktu saya memperhatikan Rahyudhy yang sedang makan menggunakan sumpit, saya sempat nyeletuk :”Dhy, gue perhati’in loe mirip sama salah satu personel F4 deh...”.Sudah dapat dipastikan doski cengar cengir tambah narsis....

Tuesday, March 17, 2009

MIETHAI Setiabudi One, Setelah 4 Tahun Berlalu

[Thursday, 12 March 2009] Terima fee dari MarkPlus euuuyyyy! Mayaaaan, jumlahnya 6 digit. Begitu ambil fee di kantor MarkPlus yang sejejer dengan Mall Ambassador daku en Mr.Di mampir makan bakso paket sepuluh ribuan di Mister Bakso mal tersebut. Sekedar ‘ngeganjel’ perut yang sejak pagi belum aku isi dengan makanan. After that...kami ke Setiabudi Building. Nonton Passengers-nya Anne Hathaway amd [atrick Wilson.

Keluar dari theater 2 perut-ku mulai minta diisi lagi. Pilih-pilih resto yang berderet disana, kami-pun menentukan pilihan pada MIETHAI yang menyediakan aneka makanan Thailand.

Thailand food is one of my favorite food, tetapi makan di MIETHAI baru kedua kalinya aku lakukan. Disinilah awal kali aku menggunakan handphone CDMA...hehehe, karena ketika itu baru nerima dari Pak Ardian Yunianto yang kantornya berada di samping gedung tersebut. Setelah itu kami berdua makan di MIETHAI karena saat itu aku lagi pengen banget makanan Thailand. Entah kejadiannya gimana yang jelas ini resto merupakan awal daku makan bareng dengan Mr.Kodok ini (Pertama kali banget sih dinner di Donner Kebab Tunjungan Plaza Surabaya saat Idul Adha tahun 2005].Ngerti resto ini sih karena Tante Nani pernah berniat ntraktir aku disini, tapi sampai sekarang kami belum sempat luch bareng lagi!!!

Menurut Mr.Di yang terbiasa keluar masuk resto hotel berpendapat bahwa harga makanan di sini termasuk standard harga makanan hotel [termasuk dari segi kwalitas khan, Di? Btw hotel bintang berapa en dimana? Bukan hotel melati satu khan?]. Jawaban yang benar : hotel bintang satu di Jogja ;-D

Lantas kami memesan makanan masing – masing. Niatnya sih ingin share, tetapi berhubung daku ingin menikmati Tom Yum tanpa gangguan pihak lain, jadinya kami masing – masing pesannya.

Pakai perbandingan saat pertama kali daku kesini ya?!

Kunjungan Pertama :

Jumlah tamu 2 orang [Daku en Pak Ardian Yunianto]

Tanggal : 27 January 2005 , Jam : “Lunchtime” s/d 16:42 (Haaah, lunch or tea break neh??? Lama amat nongkrongnya? ;-p Gue baru nyadar sekarang.]

Foods :

Tom Yum Seafood @ Rp 39.545 ,-

Ayam Kemangi @ Rp 29.091 ,-

Kangkung Hotplate @ Rp 19.091 ,-

Cumi Panggang @ Rp 34.091 ,-

2 Steam Rice @ Rp 2.727 ,-

Semua makanan kami sharing. Jadi makan sama-sama deh, kecuali Kangkung Hotplate karena daku khan nggak terlalu suka. So pesenan ini merupakan ‘special request’ dari Mr. Kodok, sedangkan Tom Yum Seafood merupakan special request dari-ku.

Harga belum termasuk pajak, Harga berlaku pada saat itu.

Beverages :

[Anna] Lemon Tea @ Rp 9.091 ,- and Milk & Soda @ Rp 9.091 ,-

[Mr.Kodok] Lemon Squash @ Rp 9.091 ,-

Kunjungan Ke-2 :

Jumlah tamu 2 orang [Daku en Mr.Di....]

Tanggal : 12 Maret 2009 , Jam : “Dinnertime” s/d 20:58

Foods and Beverages :#

[Anna] Tom Yam Mie @ Rp 27.700 ,- , Nasi Goreng Balacan @ Rp 19.600 ,- and Ice Tea @ Rp 5000 ,-

[Mr.Di...] Steam Rice @ Rp 3900 ,-, Kakap Asam Manis @ Rp 31.500 ,- and Ice Lemon Squash @ Rp 13.500 ,- (Pesenan minuman Mr.Di and Mr.Kodok kok bisa sama yak? Padahal daku sama sekali tidak mempengaruhi mereka berdua loh...)

# Harga belum termasuk tax & service.

Menu di resto ini dilengkapi dengan bahasa Thailand, bahkan desain resto-nya juga khas Thailand – lengkap dengan foto “orang yang dihormati”. Ternyata (biar gak ada hubungannya) malam saat aku makan dengan Mr.Di, kakak pertamaku dan suaminya beserta Fajar, anak bungsunya bertolak dengan pesawat Garuda pukul 21.00 ke Bangkok Thailand. Tadi mereka cerita ke aku bahwa disana kenyang dengan Tom Yum...so daku bisa dapet bumbu Tom Yum asli dari Thailand....Alhamdulillah mudah-mudahan minggu ini daku bisa masak Tom Yum dengan udang yang ramai berkumpul di sana dan siap kulahap.

Sunday, March 15, 2009

Gumati Sentul - Bogor

Ini ketiga kalinya saya makan di Gumati Resto (9 March 2009), namun pertama kalinya berkunjung ke Gumati yang berlokasi di Sentul. Pertama kali makan menjelang malam di Gumati Bogor bersama Om Ardian Yunianto (12 Februari 2005...wuuuiii 4 taon yang lalu!), kedua kalinya bersama rombongan keluarga di bulan Juni 2005. Haaaah, ternyata sudah 4 tahun berlalu!
Terus terang kesan berkunjung ke Gumati Sentul ini kurang “baik”. Secara lokasi dan venue-nya emang bisa dikasih poin 5 dari scores 5, namun untuk service saya hanya memberi poin 1!!!
Bayangin ajah....begitu sampai lokasi hujan deras. Parkiran sih langsung dapat, tapi kita nggak kebagian meja dan petugas resto nggak ngebantu’in kami mencari meja. Kami menunggu di ruang tunggu/lobby disisi meja bilyard yang tanpa bola dan tongkat.
Mas Tunggal , Mas Yono dan Mbak Rita keliling mencari meja atau saung yang kosong, sementara aku, Sekar, Seno, Fajar. Mbak Wien dan Ibu menanti di ruang tunggu. Karena menunggu terlalu lama kami memesan terlebih dahulu....ah pokoknya pelayanannya nggak memuaskan. Bahkan boleh dikatakan kami tidak dilayani! Live music-nya kelewat gede suaranya sehingga menyulitkan kami berkomunikasi satu sama lain. Beberapa orang terlihat ngibrit menjauh keluar sambil menerima panggilan telepon dan menutup satu telinganya dengan tangan. Bayangin, begitu kami mendapatkan saung...kondisi basah (banjir malah!), aku dan Mbak Rita sampai mengepel dengan tissue tanpa dibantu oleh petugas resto tersebut.
Ayam Gumati yang kami pesan tidak datang. Setelah saya keliling mencari petugas yang bisa ditanya, ternyata dengan santainya dijawab,”Oh kalau nggak diantar berarti habis....” Tolong, lain kali di-inform kalau memang habis, sehingga nggak pada nunggu kelamaan.
Pisang goreng dan Bakso Tahu ala Gumati yang kami pesan juga tidak diantarkan....!! Ampuuun dah, pupus tuh suasana resto ini yang sebenarnya asyik dengan gaya laksana di Bali, lengkap dengan resort dan gallery-nya.
Berkunjung kembali ke Gumati Sentul??? Boleh-lah dicoba lagi, tetapi kalau pelayanan masih sama dengan kemarin....waaah, mendingan ........*speechless.

Tuesday, March 3, 2009

AH Resto, Hotel Formule 1 Cikini

Pulang ngasih laporan dari MarkPlus, aku menelpon Mr.Di yang sejak siang tadi bolak balik sms en miskol ke hape-ku, baik yang XL maupun Fren.

“Loe masih perlu gue dateng ke sana?” tanyaku mengingat hari telah sore. Dengan antusias Mr.Di menyambar,”Oh iya dong. Loe buruan kesini yaa...”

Saat sudah dihadapannya doski cuma cengar-cengir nggak ngerti harus ngapa’in. Deeeuuu...bilang aja loe kangen sama gue! ;-p

“Makan yuk, Di...” ajakku akhirnya. Yang kemudian dia jawab,”Boleh, asal jangan mahal – mahal ya.”

Yup! Emang gak mahal kok, tapi Mr.Di memilih salah satu cafe di Hotel Formule 1 Cikini! Alasannya,”Gue suka suasana tuh hotel, en suka banget sama kolam renangnya yang besar itu.”

Daku manggut – manggut aja karena memang berminat juga suatu saat stay overnight di hotel tersebut. En sekalian konfirmasi soal kolam renang hotel itu, zaman SMP untuk pengambilan nilai ujian renang guru-ku dari SMP Negeri 2 Jakarta senantiasa memilih kolam renang Cikini, dan sepengetahuanku hotel yang baru dibangun ini dahulunya adalah kolam renang tersebut. Kemungkinan kolam renangnya hanya direnovasi menjadi bagian hotel.

Begitu naik tangga di depan gedung Mr.Di langsung menunjukkanku kolam renang tersebut, ternyata perkiraanku benar. Kolam itu masih kolam ketika aku SMP, hanya direnovasi. Kami memandang kolam renang dari atas. Waduh jadi flashback nih,”Di, waktu gue SMP gue sudah “melihat” bahwa kolam ini jadi kolam renang hotel. Zaman gue SMP tuh temen-temen pada pakai baju renang yang model jadul en ada rok penutup pahanya tuh, sementara gue pakai swimsuit yang biasa dipakai samaq model majalah Popular yang benar-benar ngepas body en seksi abiiiss....”

Dengan jahilnya Mr.Di nyeletuk,”Loe pakai yang two piecies atau one piece?”

Yang langsung daku samber,”Sambleng loe, yang one piece gitu aja semua orang disini udah pada ngelihatin gue dengan takjubnya, Temen2 gue komentar katanya baju renang gue sih gak masalah kalau makainya di kolam renang hotel en bukan di kolam renang umum seperti waktu itu. Eeeehh...ternyata nih kolam renang beneran jadi kolam renang hotel. Gue bener2 nggak ngira....”

Malam itu, 24 Februari 2009 kami dinner di AH yang berada di lokasi hotel tersebut. Gak jadi di cafe yang diajukan Mr.Di karena cafe tersebut nggak menyediakan makanan berat, sementara daku udah kelaperan. Daku pesan Super Fried Rice and Sofdrink Cola, sedangkan Mr.Di memesan paket Nasi Ayam Rica – Rica plus telor ceplok dan es teh tawar-nya en tambahan dia pesan Root Beer. Pesanan Mr.Di lebih dahulu datang. Daku mencicipi Ayam Rica Rica yang sempat daku komentari “mirip ayam di gudeg,Di.”, sedangkan Mr.Di mengatakan bahwa Ayam Rica Rica-nya termasuk pedas seperti di Menado (Iye, die mah sempet 4 taon kerja di Menado jadi ngerti tingkat ketepatan rasa makanan khas daerah itu.)

Makanan ludes dalam sekejap. Kita masih asyik mengobrol, membahas hotel, restaurants dan ....masalah pribadi – about our dreams,our future. Hihihi...kemarin di kantor nyaris ada yang nyebar gosip tentang kedekatan kami. (Cuek aja, Di....gue mah udah gak mempan sama gosip!)

Sebagai penutup kami memesan Root Beer Float and Ice Cream Soda Coklat. Pesan Tiramisu tapi not available. Kami menikmati suasana hingga nyaris jam 22. Menikmati suasana, karena memang itu yang diingini Di di tempat ini. Soal makanan sih barangkali pada kondisi ‘tanggal tiris’ seperti ini Mr.Di lebih memilih makanan murah meriah. Barangkali gorengan di pinggir jalan...hiihiihi....peace, Di. So dalam seminggu ini kami berdua sudah menikmati waktu dinner di Starbucks Margo City Depok (18.02.09), Hoka Hoka Bento Menteng dan Bubur Ayam Cikini. Yang di Star Bucks lantaran Diyat dapat voucher dari Radio Delta FM sedangkan di HokBen Menteng lantaran daku kalah taruhan...

Thursday, January 15, 2009

The Duck King di Hari Ke-2 Tahun 2009

Hari kedua tahun 2009. Aku, Ibu, Mas Tunggal, Mbak Rita, Sekar dan Seno nonton ‘Bedtime Stories’ di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Selesai nonton, kami langsung menuju Fountain Show untuk menyaksikan show airmancur ala New York itu. Pamer ke ibu deh, menunjukkan bahwa Fountain Show yang biasa ibu lihat di luar negeri ternyata di Indonesia juga ada loh...hehehe...

Jam 21.15 pastinya kami lapaaarr...sedangkan ibu mengantuk! Dengan rayuan pol-polan akhirnya kami berhasil membawa ibu ke ‘The Grand Duck King’.

“Ibu duduk aja yang santai...sementara kami makan, ibu bisa minum aja.” Kataku. Kesannya kurang ajar banget yah? Hahaha...tapi emak gw emang gituh orangnya, kalau lagi nggak mau makan – beneran gak mau makan total! Btw ada miripnya juga sama si Kodok yang susah makan ;-D

Dengan sok berbakti kepada orang tua, kami menawari aneka makanan ke ibu, tapi tetap aja dengan keteguhan hati ibu gak mau mengkhianati keputusannya! Tapi daripada cengok hanya menyaksikan kita yang udah kelaparan, akhirnya ibu kita pesankan soup khusus, SOUP BURUNG DARA yang disajikan di ‘pralon’ bambu. Jadi benar-benar bambu yang dijadikan mangkuk seperti celengan zaman dahlu kala tuh. Ternyata ibu menikmati soup tersebut dengan lahap-nya, bahkan sempat menuangkan mangkuk tersebut agar isinya benar-benar ludes des des termakan.

Makanan yang aku lahap pertama adalah Pangsit Udang Goreng dengan Mayonnaise yang harganya @ Rp 16.800 ++. Ini adalah kunjungan ke-2-ku ke ‘Duck King Group’ Restaurants. Pertama aku berkunjung ke ‘Duck King’ yang berada di Plasa Semanggi. Sama seperti kunjungan pertama, kali ini kami memesan :Barbeque Double Combination, perpaduan antara bebek dan ayam barbeku yang harga perporsi-nya Rp 75.000 ,-.Beberapa menu lainnya kami pesan, diantaranya pesan Tim Gulung Kulit Tahu dengan Scallop & Jamur Shimeji yang aku aduk-aduk ternyata nggak nemu scallop en jamur shimeji-nya. Ternyata dengan tanpa izin terlebih dahulu pihak resto mengganti dengan sayuran dengan alasan habis ( please deh, besok2 kasih info dulu ke kita dooong...supaya tidak ‘menyesatkan’ ginih!)

Sesuai namanya resto ini memiliki menu andalan : Roasted Duck & Peking Duck. Yang pasti ada pilihan lebih dari 100 menu, bahkan mencapai ratusan karena terdapat ‘harga mentahan’ yang bisa dipesan (“ongkos ngolah”-nya lain lagi), diantaranya : Lobster mutiara hidup harga per-100 gram Rp 110.000 ,-, Lobster hidup per-100 gram Rp 75.000 ,- yang dapat diolah menjadi Kepala Lobster dan Cingkong dengan Sup Superior atau goreng dengan cabe garam. Kemudian Kepiting Laba-Laba Alaska 3 rasa (Daging badan kepiting Alaska, Batok Tim Telur Kepiting dan Scallop, Kering dengan Putih Telur dengan Sup Superior). Satu bahan yang sempat bikin aku melongo waktu melihat di aquarium-nya adalah : Kerang Belalai Gajah Kanada – bentuknya ‘nggak lazim’, berwarna semi kuning – malah justru mirip timun suri, diolah antara lain sebagai menu : Kerang Belalai Gajah Hidup dan Tumis Kerang Belalai Gajah Hidup dengan sayuran. Selain itu terdapat pula : Kerang Bambu Scotlandia.

Disini juga tersedia ‘tikus’ loh...hehehe, buat yang doyan tikus? Tikus bukan sembarang tikus seharga Rp 95.000,-/100 gram. Maksudnya adalah ‘Krapu Tikus Hidup’!

Kalau ngomongin soal makanan favorit, di sini terdapat soup favorit-ku sejak aku masih duduk di bangku TK, yakni : Tim Hisit Superior dengan Scallop kering, bamboo pith dan sayur yang ‘dibandrol’ Rp 258.000,-/pax (1 orang) atau Sup Hisip dengan Daging Kepiting dan Telur Kepiting seharga Rp 188.000 ,-/pax. (Peeeengggeeeeennn.....). Atau juga Nasi Goreng Siram Hisit yang perporsi-nya Rp 208.000 ,-.

Yang mau makan bubur juga bisa menikmati Bubur Abalone Ayam seharga Rp 300.000 ,-/porsi. Beneran tuh harganya! Kalau anggaran cuma Rp 30.000 ,- (plus tax) silakan aja pesan Bubur ayamnya doang.

Menu seafood-nya memang menggiurkan buat daku yang doyan mencicipi aneka makanan halal...tetapi oh tetapi sebagai supporter WWF dan hamba Allah yang diamanahi untuk menjaga kelestarian lingkungan ciptaan-Nya, mendingan daku bayar orang agar mereka tidak memakan seafood yang sangat dilestarikan itu, karena jika saja binatang laut itu musnah maka ....hiks...nanti daku malah kampanye lingkungan dah....Mendingan hubungin WWF langsung aja supaya jelas seafood apa saja yang harus kita kurangi konsumsi-nya dan apa yang sebaiknya tidak kita makan. Makanya daku mengurangi banget makan hisit asli...bukan lantaran mahalnya ;-p Masih ada hisit sintetis (Oh dunia memang penuh kepalsuan ;-p)...harganya murah meriah. Kalau hisit asli-nya sih pada saat tertentu aja, kalau pas kepepet...hehehe...

Oke, kalau ada yang mau ke resto Duck King bisa langsung dateng ke : Mall Kelapa Gading 5 (terbaru) dekat The Catwalk (paling dekat rumah juga di Pulomas, tp daku malah belum pernah makan disini .... khan masih baru ;-p), Grand Indonesia Jakarta (Nah ini yang daku kunjungi tanggal 2 January 2009), Senayan City, Imperial Chef Jakarta, Pondok Indah Mal II, Plaza Semanggi (Duck King pertama yang daku kunjungi). Di Surabaya ada di Mall Galaxy Surabaya dan di Plaza Tunjungan. Di Bandung adanya di Paris Van Java.

Oh ya, kalau pesan ‘Es Teh Tawar’ bisa di-refill loooh! (Hiiii....info tak penting ;-p Kalau ‘soup hisit’ yang bisa free refill baru tuh penting bagi daku ..;-D)

Monday, December 29, 2008

Sukoharjo Lounge Hotel Sahid Jakarta

Tengah malam daku ke Hotel Sahid Jakarta untuk....breakfast. Loh kok malem? Iya, “panggilannya” malam en mendadak. Jadi walaupun di kamar hotel daku sama sekali nggak tidur! Jam 6 pagi daku en Om Ardian Yunianto yang lagi tugas di Jakarta (dari Jepara en Semarang, tapi basecamp-nya sekarang di Surabaya) breakfast di Sukoharjo Resto yang terletak di Hotel Sahid ini. Daku mah sebenarnya udah nggak asing lagi dengan hotel yang satu ini berikut group-nya.

Cuma herannya, pelayanan agak lambat deh. En “tukang goreng” scramble egg-nya juga ntah kemana. Pesan telor yang diacak-acak, eh jadinya malah telor dadar “biasa” gitu deh. Menunya sih standard American Buffet gitu deh.

Tanggal 2 December 2008 Om Ardian gak ikutan breakfast, dia tetap di kamar. So daku ngeloyor aja ke resto sendirian, karena datangnya lebih siang dari kemarin, jadinya resto sudah ramaaaiii banget. Nyaris gak kebagian tempat. Untungnya makannya gak sampai berdiri seperti naik busway! Hari ini daku nggak seberapa banyak ngambil makanan, lagipula semalam aku tuh udah pesan makanan ‘roomservice’, Nasi Goreng Kampung yang selain ada ayam goreng, telor mata sapi plus sate ayam juga. Sampai paginya tersisa, Om Ardian cuma ngebayarin sekitar Rp 90 ribuan – gak ikutan makan. Hhmmm pantesan tuh orang hidupnya tulang doang...makan aja susah banget! Orang-orang tuh mau makan enak pada susah , eh dia mah malah susah banget disuruh makan!

Pagi ini daku minum juice Kiwi...juice berwarna hijau dari buah Kiwi, tentunya. Segaaaarr....

Nggak berlama-lama nongkrong di Sukoharjo Resto, selain karena meja yang aku tempati udah diantri sama 2 cowok, Om Aan juga udah nelpon ngasih instruksi supaya aku segera udahan.

Wednesday, December 17, 2008

Makan Gratis - Gratis Makan

HOT RAMEN DI MKG

Hari Senen dua minggu berturut-turut, tepatnya tanggal 17 dan 24 November 2008 Anna en Yuli memanfaatkan sms promo dari salah satu operator CDMA (Gak daku sebutin namanya ah,kecuali kalau dibayar lebih ;-p).

Makan gratis Extra Hot Ramen plus Ice Tea manis. Lantaran setiap Senin dilaksanakan promo tersebut, maksudnya sms berlaku setiap hari Senin, jadi resto ala Jepang (Gokana Teppan] tersebut penuuuh banget. Alhamdulillah tanggal 17 kami langsung masuk ke resto tersebut. Tetapi tanggal 24 antri sebentar, itu-pun lantaran Jeng Yuli yang baru sampai di MKG jam 8.30. Niaaatt bangeeeetzzz.....

Tanggal 17-nya Anna nikmatin banget rasa pedas Ramen alias mie Jepang tersebut. Pedas-nya pas di lidah. Ada potongan telor setengah,en taburan beef ala bulkoki yang sweet. Berhubung ini di Indonesia jadi taburan beef, kalau di Jepang atau di Singapore potongan daging atau kaldu-nya hampir dapat dipastikan mengandung babi.

Hartz Chicken Buffet – Pasar Festival

Masih memanfaatkan sms promo, kali ini buy 1 get 1 free (Food Only). Jum’at, 28 November (hari terakhir berlakunya sms promo) sengaja siangnya nggak makan apa-apa supaya laper en bisa makan sepuasnya di resto ini, tetapi nunggu Aldo yang hampir 1 jam terlambat jadinya Anna nunggu Aldo di Wendys. Biarpun cuma nunggu “pakai” Ice Lemon Tea tetap aja bikin perut jadi ‘kenyang fatamorgana’. Menjelang jam 18.00 Aldo baru nongol di Wendys en kita ngobrol sampai 1 jam-an di situh, padahal gak pesan apa-apa lagi, sekedar mau bikin perut lebih laper aja ;-D

Jam 19.00 baru deh kita melangkahkan kaki ke Hartz Chicken Buffet yang terletak di pojok bawah. Ternyata di dekat kasir ada beberapa orang yang antre untuk memanfaatkan promo tersebut. Kami bayar total Rp 90.000 incl. 2 drinks yang dapat di-refill (Sayangnya kami berdua cuma pesan air mineral!)

Peraturan untuk makan disana maksimum 2 jam benar-benar kami maksimalkan. Kami makan sampai resto tersebut tutup. Sebenarnya daku udah kenyang duluan, jadi makan nggak terlalu banyak – apalagi dengar confension Aldo yang menurut daku “bukan alumni Auckland” banget! Al, kalo loe gak tamat dari SD kampung sono mah alasan loe bisa gw terima dengan lapang dada! ;-p Pokoknya yang pasti daku sudah tidak melihat Aldo secara seutuhnya. Dia bukan cowok yang daku kenal 12 tahun yang lalu. Walaupun sikap dia memperlakukan daku masih sama seperti yang dulu. Masih mau “memaksa” makan makanan-ku yang nggak sanggup aku habisin, masih sharing dalam makan dan tidak akan membiarkan daku jalan pulang sendirian (apalagi di malam hari).*curhat colongan neh ;-p

Soup yang daku ambil malam itu Cream Chicken, karena Tom Yum Ayam-nya tinggal kuahnya aja. Sedangkan Aldo minta Mie Ayam yang sempat mau dibagi ke aku.The last Aldo juga mengambil beberapa Chicken Nugget yang lagi-lagi ditawarkan ke aku.

Sunday, December 14, 2008

COCA SUKI Gedung BRI, Jakarta


Akhirnya makan juga daku di resto yang satu gedung dengan Synergy Worldwide. Bolak balik sejak September 2007 di gedung ini tanpa makan di resto ini. 25 November 2008 daku kembali mengantar ibu arisan di Coca Suki (Since 1957). Bulan

lalu khan di Gang Gang Sulai, yang ceritanya ada disini. Semalam seusai makan ramen di daku en Yuli lihat Gang Gang Sulai di La Piazza disegel oleh Pemda DKI. Konon jaringan resto Korea ini menunggak pajak yang nilainya milyaran rupiah.

Daku en ibu datang saat peserta arisan lainnya sudah datang. Kali ini ada beberapa anak dari peserta arisan, jadi daku bisa ngegabung di meja peserta-peserta muda...ciiiiieee..yang ternyata salah satunya adalah istri dari Pak Aswin, penasehat IF yang setiap hari besar mengirim sms ke Anna. Anna pangling loh lihat istri Pak Aswin kali ini, padahal dulu pernah nganterin Anna dari Senayan City ke Pulomas bareng Pak Aswin dan Serena-nya. Waktu itu aku habis meeting di Urban Kitchen dengan beberapa pengurus.

Istri-nya Pak Aswin termasuk vegetarian , jadi klop banget deh duduk semeja dengan Anna. Daging-dagingan dan seafood langsung Anna lahap dari tempat tempatnya. Namanya ‘suki2an’ biasanya kita khan ‘masak’ ndiri. Kali ini kita rebus-rebusan. Ada udang rebus, wonton, somay, fishcake, jamur, dan lainnya. Selain itu kami dihidangkan mie goreng serta gorengan isi perut ikan campur kepiting. Dessert-nya kita dikasih cemilan Thailand, termasuk singkong manis gula santan yang ditaburin wijen.

Pulangnya kita dibawa’in masing – masing glass untuk juice bertuliskan Coca Suki dan kota-kota dimana cabangnya berada, glass lucu yang disalah satu sisinya ada ikan Koi. Awalnya Anna dan istrinya Pak Aswin heran. Terjawab deh keheranan Anna sejak awal melihat leaflet promo di meja kami yang tertuliskan ‘Sea Breeze’ Rp 35.000 ++ (incl glass). Daku pikir salah cetak, daku pikir benerannya (incl tax/per-glass)...tapi kenapa ada ++ ??? Akhirnya terjawab dengan membawa pulang gelas yang baru, mirip dengan glass yang dipakai kami minum ‘Sea Breeze’, minuman segar perpaduan juice dan pudding – ada biji selasih and gel yang krenyel-krenyel menyegarkan. Duuuhh...berasa anak TK yang baru pulang dari acara ulang tahun temannya deh daku...secara gitu bawa2 gift.

Monday, November 3, 2008

RM Apung & Kolam Pancing KAMPUNG LAUT, Semarang

Asyik nih, sekarang Semarang punya tempat tongkrongan yang dapat dinikmati bagi keluarga atau beserta teman – teman. Dari gathering sampai pernikahan bisa diselenggarakan di sini.

Nama-nya : Rumah Makan Apung & Kolam Pancing KAMPUNG LAUT. Letaknya di Kompleks Puri Maerokoco – PRPP Semarang , Jawa Tengah.

Menu seafood-nya lengkap...kap...kap....asalkan kita gak pesan Lumba Lumba Saos Padang atau Putri Duyung Sambel Kecap yaa ;-p

Tanggal 5 October 2008 merupakan kunjungan kedua daku ke Kampung Laut, bareng Ibu, Mas Tunggal, Mbak Rita, Sekar dan Seno naik Tavera. Sebelumnya daku makan disini tanggal 29 December 2007, bedanya ibu diganti dengan Ely.

Dikunjungan kedua kami memesan, antara lain : Kepiting Lamburi Goreng Malaysia, Sapo Tofu Seafood, Udang Telor Asing...hhmmm terus apalagi ya??? Ingatnya hanya 3 menu tersebut karena daku udah girang duluan melihat ada Kepiting Lamburi Malaysia yang seluruhnya bisa dimakan tanpa takut gigi rontok. Harga perporsi-nya kalau nggak salah...(Harga December 2007) Rp 60.000 ,-/porsi. Menu kepiting lainnya : Kepiting Telur Bakar, Kepiting Telur Lada Hitam, Kepiting Telur Cabe Garam, Kepiting Telur Taoco, Kepiting Saos Singapore....pokoknya banyak banget variasi menu-nya. Ini baru kepiting, belum yang lainnya seperti udang, dan aneka ikan-ikanan, cumi bahkan abalonies aja ada loh.

Venue-nya top banget, ada live music, ada televisi, ada lesehan, ada di meja makan biasa, ada yang di pinggir laut,ada yang seperti di resto indoor – bahkan yang nggak kalah serunya : makan sambil memancing. Tempatnya bersih, walaupun semua serba SEA tetapi nggak tercium amis. Memasuki area resto-nya kita berjalan di atas dermaga yang romantis abis!

Untuk makan disini kalau kalian berempat, setidaknya sediakan uang minimum Rp 300.000 ,-. Rata-rata perporsi harganya diatas @ Rp 50.000 ,-. And snack yang ditawarkan, seperti risoles, kroket dan lainnya yang dijual di stand khusus juga nikmat loh untuk menanti menu utamanya datang.

Catatan dari WWF tentang SEAFOOD Ramah Lingkungan. Hindari : abalonies,ketam kelapa, lumba lumba, duyung, kima raksasa, kerapu, lobster/udang karang, pari manta, napoleon, mola mola, hiu, triton, trochus, telur penyu, penyu, ikan paus, tuna sirip biru.

Hiks...padahal dulu daku suka banget loh makan Sop Sirip Hiu en Lobster. Ayo ikutan berpartisipasi mengembang biakkan hewan laut tersebut supaya kita bebas makan. Hayoooo siapa yang mau bikin empang lumba lumba di rumahnya?????!!!

Tuesday, October 14, 2008

Breakfast @ Flamboyan Cafe, Grand Candi Hotel Semarang (*5)


Mendapat kesempatan breakfast di Grand Candi Hotel Semarang selama 2 hari pada perjalanan Syawal. 5 – 6 October 2008 sebagai guest di Deluxe Room dengan tarif peak season. Tentu saja Anna langsung melahap semua makanan yang tersedia.

Jenis makanannya standard American Breakfast (buffet). Ternyata Nasi Goreng Ayam yang disajikan pagi itu terasa pas dilidah. Sekilas kesannya pedas, tapi Anna pikir kecil kemungkinan makanan pedas tersaji di hotel berbintang. Bisa teriak - teriak,”Fire...Fire...Fire....!” para tamu mancanegaranya.

Jika John Robert Power mengetahui cara breakfast-ku pagi ini pastilah dia akan menahan tangis. Bubur ayam – Nasi Goreng – Mie Goreng – Wedges Patatos, Ayam Goreng -Tahu Tumis – Telor Rebus – Scramble Egg - Pancake Wafle Coklat plus Kacang Keju – Ikan balur Tepung...semua Anna lahap dalam sekejap diiringi fresh milk and orange juice. Bye Bye table manner. *Sambil nyanyi,”Setelah sebulan lamanya kita berpuasa.....lalalalala...”

Hari kedua breakfast menu tidak terlalu banyak berubah, tetapi Ayam Goreng kali ini dilumuri sambal merah dan Wedges Patato modelnya seperti nugget. Kali ini Anna menambah cake sebagai makanan penutup , cake coklat yang rasanya mantap banget seperti tiramisu (sepertinya yang bikin mantap karena dikasih rum deh...hihihi...halal ah! Yakin aja!* Kali ini ogah ambil scramble egg lantaran jejeran sama bacon yang jelas haram hukumnya!). Hari ini dalam list yang tercantum di meja buffet terdapat tulisan ‘Dim Sum’. Anna sudah pasang ancang – ancang siap menyerbu, tetapi ternyata hanya ada bakpau aja.

Secara keseluruhan makanan yang tersaji sudah baik, walaupun menu-nya masih lebih ramai dibandingkan hotel berbintang 4 yang berada di Semarang juga.